JEJAK KAKI ANAK NEGERI DI ‘NUSA TERINDAH TOLERANSI’- NTT (Bagian 5)

Rabu, 16 Mei 2018

Laporan: Yasintus Fahik

Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur berjajaran pulau-pulau besar dan kecil bak semut beriring ini, memiliki sejuta potensi sumber daya alam dan etnis budaya yang beragam. Meski berlatar belakang etnis budaya yang berbeda satu dengan yang lain namun kehidupan social masyarakatnya senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan toleransi. Dengan kehidupan masyarakat yang demikian mesra nan harmoni ini pula akan terus menjadi warisan kekayaan budaya yang menggenerasi. Karena itu tidaklah mengherankan jika kemesraan ini sejatinya menjadi daya ungkit sekaligus berdaya pikat bagi wisatawan mancanegara.

kampung adat takpala Alor

Takpala, flobamoraspot.com – MERANGKAI tulisan berseri terdahulu dibawah thema, Potret Wisata di NTT – Negeri Tanah Terjanji –(Bagian 4) dengan sub thema, Menuju NTT – Nusa Tiada Tara– sesungguhnya mau menampakkan bahwa NTT itu kaya raya dengan potensi alam dan budaya. Kehidupan masyarakatnya tidak seperti plesetan orang bahwa NTT miskin dan terbelakang serta rendah sumber daya. Atau ‘Nusa Terus Tertinggal’;  ‘Nanti Tuhan Tolong’; ‘Nasib Tidak Tentu’; ‘Nanti Tolong Terus ‘ atau sebutan negative lainnya.

Andaikan jargon-jargon atau pelesetan ini mau disandang maka dalam pembangunan nasional NTT pun selayaknya dibangun sama seperti provinsi-provinsi lainnya di Indonesai. Karena NTT adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang harus dibangun dan diperlakukan sama oleh pemerintah pusat. NTT tidak harus menjadi anak tiri dalam pembangunan  sector apapun. Karena disadari NTT berbatasan langsung laut dan daratan dengan Negara Australia dan Negara Timor Leste.

NKRI-ku adalah Harga MatiPancasila Perisai-kuUUD 1945 Pedoman-ku, dan Bhinneka Tunggal IkaJunjungan-ku bagi rakyat NTT tidak sekadar lip service. Atau mudah diucap dan sedap didengar.  Akan tetapi sudah tertoreh dalam sanubari dan sudah senadi dalam satu denyutan jantung. Sehingga hal-hal prinsip tersebut di atas akan terus dan senantiasa membekas pada tapak Jejak Kaki Anak Negeri di  Nusa Terindah Toleransi-nya ini.

Adalah sungguh beralasan kalau NTT dikatakan miniaturnya Indonesia. Karena di dalam NTT berjejeran pulau bak semut beriring. Juga di dalam terisi oleh insan manusia yang menganut 5 (lima) agama besar yakni Katholik, Kristen, Islam, Hindu, Budha. Yang dalam pranata social kesemuanya itu hidup saling berdampingan nan mesra satu diantara yang lainnya.

Dan fakta ini sejatinya sudah terwariskan secara turun temurun dan diyakini akan terus menggenerasi. Tergambar melalui kegiatan-kegiatan social keagamaan masyarakat NTT saling bahu membahu dan tolong menolong. Membangun rumah ibadah contohnya masyarakat saling memberi sedekah. Merayakan hari-hari besar keagamaan sekalipun umat senantiasa mengambil perannya masing-masing. Bahkan Perayaaan Jumat Agung di Larantuka Kabupaten Flores Timur dan Pawai Paskah di Kota Kupang dijadikan Calendar of Eventdalam pembangunan kepariwisataan di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dalam hubungannya dengan dunia maka etnis dan budaya dikemas dalam kekayaan benda dan tak benda. Untuk kekayaan benda diantaranya berupa Rumah Adat.  Di Kampung adat TAKPALA Desa Lembur Barat Kecamatan Alor Tengah Utara Kabupaten Alor adalah potret lain dari 2 Rumah Adat yang juga bercerita tentang kebersamaan dan toleransi antar umat beragama. Takpala adalah kampung adat yang terletak di lereng bukit itu terdapat 14 unit rumah adat. Uniknya dari jumlah tersebut ada 2 unit rumah adat yang menjadi persai kebersamaan itu dibangun berdekatan dan diberi nama ‘Kolwat dan Kanorwat’. Untuk membedakan kedua unit rumah adat ini diberi cat warna hitam dan putih pada beberapa bagian dinding rumah. Cat berwarna putih untuk Rumah Adat KANORWAT adalah gambaran kehidupan bagi kelompok agama Kristen (Katholik dan Protestan) dan  cat berwarna hitam untuk Rumah Adat KOLWAT yang melambangkan kehidupan kelompok Muslim.

Martinus Karelkae, Pengelola Kampung Adat Takpala mengatakan Kolwat dan Kanorwat menjadi pra lambang penganut agama yang mayoritas di Kabupaten Alor. Yakni agama Kristen (Katholik dan Protestan) dan agama Islam. Kalkae berharap Pemerintah RI melalui pemerintah Provinsi NTT agar membangun infrastruktur yang memadai DARI dan KE Kampung Adat Takpala serta merenovasi rumah adat yang ada. Karena Kolwat dan Kanorwat adalah saksi sejarah dan merupakan Cagar Budaya yang perlu dilestarikan.

Menurutnya, NILAI Kebersamaan dan Toleransi itu sangat mahal harganya. Meski terbayar dengan nyawa sekalipun asalkan toleransi antar umat beragama itu tetap ada dan terus hidup di bumi Indonesia, di FLOBAMORA Negeri Tanah Terjanji – NTT khususnya di Nusa Kenari ALOR.

“Kami di Alor dalam kehidupan antarumat beragama selalu hidup berdampingan. Dibangunnya rumah adat Kolwat dan Kanorwat ini melambangkan semangat toleransi yang sudah diwariskan secara turun temurun. Keberadaan Kolwat dan Kanorwat inilah menepis perbedaan diantara suku-suku yang ada di Alor,”jelas Karelkae. (koran Citra News Hal. 5 Edisi 65 September 2016)

Karena itu adalah naif  jika ada pihak-pihak tertentu atau sekelompok orang berupaya untuk memecahbelah persatuan dan kesatuan yang telah terbina. Tindakan atau aksi apapun tidak akan mempan memutuskan mata rantai kebersamaan yang telah ada. Rakyat NTT dimanapun, apapun suku dan agamanya, dan kapapun keberadaannya diyakini tidak akan mudah terpancing atau terprovokasi dengan hal-hal yang merusak tatanan yang sudah mendarah daging itu. Tindakan teroris apalagi atau berpaham terorisme sekalipun. Dengan sendirinya ia akan luluh lantah dengan perbuatan kasih dari anak-anak negeri terindah toleransinya ini. Karena dipahami bahwa KASIH itu Sabar, KASIH itu Murah Hati dan Tidak Sombong, juga KASIH itu Lemah Lembut. +++  (Ke Bagian 6)

 Sumber : Citra News.com/Martin Radja

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »