Bukit Noehaen, Bak Perawan Yang Belum Disentuh

Sabtu, 26 Mei 2018

Laporan : Yasintus Fahik

Crue Tirilolok Sonya Therik, Daniel Misa dan Paskal Ndena di atas Bukit Noehaen.

Noehaen, flobamoraspot.com – Siang itu Jumat 25 Mei 2018 udara Kota Kupang sangat panas walau musim panas belum tiba. Saya dan teman-teman Crue Radio Tirilolok bertolak menuju Paroki  Santo Stefanus Noehaen. Kami menempuh perjalanan sekitar 50 Kilo meter menuju Noehaen menggunakan tiga mobil kijang.  Paroki ini masuk dalam wilayah Keuskupan Agung Kupang dan terletak di paling Selatan pulau Timor berdampingan dengan Pantai Selatan laut Timor. Jam 10.30 tepat kami bertolak dari Kupang ke Paroki yang dipimpin Pastor  Alfonsius Nara Hokon, tiba sekitar 01.30 atau sekitar 3,5 jam kami menempuh perjalanan ke sana.

Maklum kondisi jalan yang cukup parah membuat kami tidak bisa memacu kendaraan lebih cepat.

Tiba di Paroki itu kami disambut hangat oleh pastor Paroki, anak muda asal flores Timur  bersama beberapa umat. Kami hampir tidak kenal karena Romo Alfonsius hanya mengenakan celana Pendek. Tak butuh waktu lama. Setelah kami basa-basi bersama romo  kami diarahkan ke Aula untuk makan siang. Maklum sudah lewat jam makan.

Setelah makan siang, kami mulai beraksi menciptakan moment dan mengambil gambar di halaman gereja Santo Stefanus Noehaen.

Tak lama kemudian kami diajak Pastor Alfonsius  ke Pantai Noehaen untuk bersenang-senang. Meski  udara Pantai Selatan sangat terik,  namun kami tak menghiraukan. Yang penting Happy.

Gemuruh dan gulungan ombak Pantai Selatan yang terkenal ganas menghempas bebatuan membuat kami harus berahti-hati ketika ingin mengambil gambar di di atas bebatuan. Ombak saling berkejaran silih berganti dengan ketinggian  1-2 Meter. Begitulah ombak pantai Selatan atau yang sering disebut masyarakat Timor  sebagai  laut Laki-laki, karena karena ombaknya yang tinggi dank eras menghempas Pantai . “Pantai ini sangat cantik. Pemandangan sekitar pantainya juga indah sekali”, kata Paskalis Sama Ndena seorang teman saya.

Pastor paroki Santo Stefanus mengatakan, karakter lautnya yangkeras membuat masyarakat Noehaen tidak bisa melaut. “Sektor Laut susah diandalkan selain Pertanian dan Peternakan”, kata Rm Alfonius Nara Hokon dalam sebuah wawancara.

Setelah puas berfoto di atas Pasir cantik dan di atas bebatuan pantai itu dengan pemandangan alam sekitar yang memukau kami coba mendaki ke atas Bukit yang saya baptis dengan naman “Bukit Noehaen. Noehaen dalam bahasa masyarakat setempat artinya kaki kali atau ujung kali.

Berada di bukit ini anda seolah berada di atas awan dekat Tahta Tuhan sang Pencipta. Saya teringat akan cerita kItab Suci Yesus dimuliakan di atas Gunung Tabor (Transfigurasi). Ketika Yesus sedang berdoa, rupa wajahNya berubah dan pakaianNya menjadi putih berkilau-kilauan. Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia. Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergianNya yang akan digenapiNya di Yerusalem. Petrus ketika itu berkata kepada sang Guru: “Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.

Seperti  Petrus dan teman-temannya Kami tidak mau beranjak meninggal tempat indah itu. Bukit ini kira-kira setinggi 40 Meter dari Permukaan laut. Dari atas bukit Noehaen  kita bisa mengeksplorasi pemandangan sekitar dengan begitu mudah. Pastor Erminol Manehat sebagai fotografer handal yang mengambil gambar di setiap Moment.

“Bukit ini ibarat gadis Perawan yang belum disentuh oleh tangan-tangan siapapun. Masih asli”, kataku membatin.  Lantas kapan mulai dibangun ? Pemerintah Kabupaten Kupang belum mengelola tempat ini secara professional. Sayang seribu sayang.

Mantan Kadis Pariwisata Kabupaten Kupang Jon Lakapu beberapa waktu lalu mengatakan, Pemerintah masih berkonsentrasi,  menata Obyek Wisata Gunung fatuleu sebagai Icon wisata di Kabupaten yang dimpin Ayub Titu Eki itu.

“Kami masih bangun Gunung fatuleu yang sudah ditetapkan sebagai Icon wisata di Kabupaten Kupang”, kata Lakapu.

Bukit Noehaen harus dijamah. Pemerintah harus menjadikan pantai ini sebagai obyek wisata Bahari de

ngan menyiapkan berbagai fasilitas pendukung. Ombak yang tinggi bisa mengundang peselancar dari Manca Negara. Jalan menuju ke sana pun harus dibangun secara baik  melalui jalan Lintas Timor (jalan Timor Raya) maupun jalur Selatan yang sudah dibuat perkerasan.

Pembangunan jalur Selatan sudah mencapai pantai Noehaen namun belum bisa dilalui karena selain

kondisi jalannya yang belum mulus (baru perkerasan), ada juga  beberapa jembatan yang belum dibangun. Jika jalur Selatan sudah bisa dijelajahi maka untuk mencapai pantai Noehaen anda bisa menempuhnya dalam waktu satu jam dari Kota Kupang (dari Bolok/ jalur 40).

Pantai Noehaen merupakan salah satu obyek wisata pantai yang belum dikelola. Beberapa pantai lainnya seperti Pantai Oeltune dan Kolbano serta Boking sudah dikelola secara baik sehingga setiap hari banyak pengunjung.

Pembangunan pantai Noehaen  masih menjadi mimpi kita bersama karena belum ada alokasi dana dari Pemerintah untuk meneruskan pekerjaan proyek jalan lintas Selatan itu. Kita berdoa semoga Pemerintah segera memberikan perhatian serius untuk memudahkan akses jalan lintas Selatan Timor itu dari Kupang menuju Timor Leste Negara tetangga kita. Salam.

 

 

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »