Rahasia Danau Kelimutu di Ende, Bisa Bersalin Warna 44 Kali

Selasa, 29 Mei 2018

Laporan : Yasintus Fahik

Danau Kawah Kelimutu di Flores, Indonesia. Kawah dengan tiga danau yang warna airnya dapat berubah-ubah sepanjang tahun ini telah menjadi salah satu objek wisata populer di Indonesia. Wikimedia.org
Danau Kawah Kelimutu di Flores, Indonesia. Kawah dengan tiga danau yang warna airnya dapat berubah-ubah sepanjang tahun ini telah menjadi salah satu objek wisata populer di Indonesia.

 Ende, flobamoraspot.com – Hari masih gelap saat sejumlah turis menyusuri jalan setapak menuju puncak Gunung Kelimutu, Ende, Nusa Tenggara Timur. Mereka berjalan cepat ke puncak untuk menyaksikan suasana matahari terbit. Tampak kabut putih menyelimuti puncak gunung. Setengah jam kemudian, semburat sinar merah muncul dari arah timur.

Saat sinar itu makin terang, tampaklah Danau Kelimutu, yang berupa kawah di antara puncak gunung. Belasan orang ramai-ramai mengambil gambar danau tersebut. Dalam satu kawasan di ketinggian 1.640 meter di atas permukaan laut itu, terdapat tiga danau yang dihasilkan lewat proses vulkanis gunung api. “Saya datang ke sini untuk melihat danau unik ini,” kata turis domestik asal Malang, William Wijaya, kepada Tempo di puncak Gunung Kelimutu, pertengahan Desember 2015 lalu.

Danau yang terletak 54 kilometer di sebelah timur Kota Ende—waktu tempuh sekitar 2 jam—itu dikenal sebagai danau tiga warna karena memiliki tiga warna: merah, biru, dan putih. Warna itu berubah-ubah dalam jangka waktu tertentu.

Danau tersebut diberi nama lokal sesuai dengan keyakinan masyarakat tempat. Danau yang paling dalam, sekitar 127 meter, disebut Tiwu Nua Muri Koo Fai (Danau Pemuda dan Gadis). Pagi itu, danau seluas 5,5 hektare itu tampak berwarna hijau lumut. Di bagian tenggara terdapat Tiwu Ata Polo alias Danau yang Mempesona sedalam 64 meter dengan luas 4 hektare. Danau itu diperkirakan menjadi salah satu sumber air bagi Sungai Ria Mbuli yang mengalir di Gunung Kelimutu. Warnanya pada hari itu hijau.

Sekitar setengah kilometer dari puncak, terdapat Tiwu Ata Mbupu (Danau Orang Tua) yang berwarna hijau. Luasnya 4,5 hektare dengan kedalaman 67 meter. Ketiga danau memiliki bentuk, kondisi hidrotermal, dan geokimia yang berbeda. “Itulah yang menjadi daya tarik Danau Kelimutu,” kata Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Kelimutu, Benedictus Rio Wibawanto.

Data Balai Taman Nasional Kelimutu menunjukkan, selama 1915-2011, Ata Polo mengalami 44 kali perubahan warna, Nua Muri Koo Fai berubah warna 25 kali, dan Ata Mbupu 16 kali bersalin warna. Tak ada jadwal dan pola perubahan yang pasti.

Perubahan terkadang menghasilkan warna campuran. Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan, pada Mei 1997, air Ata Polo berubah warna dari cokelat dan hijau tua menjadi merah hati. Mbupu berubah dari cokelat tua menjadi hijau kecokelatan. Sedangkan Nua Muri Koo Fai berubah menjadi putih telur asin dari biru dan hijau muda. Empat tahun lalu, warna danau hampir seragam hijau. Setahun kemudian, warna berubah menjadi hijau dan hitam.

Riset Pasternak 20 tahun lalu menunjukkan Kelimutu termasuk gunung api tipe stratovolcano yang tak banyak mengeluarkan material vulkanis. Gunung ini terakhir kali meletus pada 1968. Aktivitas vulkanis Gunung Kelimutu tercatat 11 kali selama 1830-1996. Adapun perubahan warna air tiga danau itu terjadi sejak letusan pada 1886.

Sejumlah ilmuwan menduga perubahan warna itu terjadi karena aktivitas gunung api, pembiasan cahaya matahari, mikrobiota air, zat kimia terlarut, ganggang, dan pantulan warna dinding dan dasar danau. Tapi, menurut Kepala Seksi Pencegahan dan Penanggulangan Kerusakan Danau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Titi Novitha Harapah, penelitian yang lebih akurat menyimpulkan bahwa warna danau yang berubah-ubah disebabkan oleh proses geokimia di dasar danau yang menghasilkan kandungan zat kimia tertentu di dalam air.

Peralihan warna air menjadi hijau dimungkinkan oleh perubahan komposisi kimia air kawah akibat perubahan gas-gas gunung api atau bisa pula dampak kenaikan suhu. Sedangkan naiknya konsentrasi zat besi dalam fluida menghasilkan warna merah dan cokelat tua. Warna hijau lumut mungkin berasal dari biota jenis lumut. Perubahan warna terjadi akibat erosi dinding atas danau dan dasar kawah yang menyingkap material-material tertentu.

Danau ini sangat rawan bila terjadi gempa atau getaran hebat. Kepala Subdirektorat Pengendalian Kerusakan Danau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Syamsuhari, mengatakan dinding pemisah antara Nua Muri Koo Fai dan Ata Polo merupakan bagian yang paling labil karena berupa dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding ini sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat dan ketinggian 50-150 meter.

“Bila terjadi gempa dalam skala besar, kedua danau bisa menyatu,” kata dia. Karena itu, kata Syamsuhari, diperlukan kajian untuk memberikan panduan kepada turis ihwal tempat berlindung ketika berada di sekitar Danau Kelimutu.

Walau berada di taman nasional sejak kawasan tersebut ditetapkan pada 1992, bukan berarti danau ini sepenuhnya aman dari ancaman. Salah satu ancaman utama datang dari sampah yang dibuang pengunjung.

ada sekitar 30 pedagang air kemasan plastik dan makanan ringan di gunung itu. Turis domestik yang justru menjadi pembuang sampah sembarangan. Jumlah mereka lebih banyak dibanding turis asing. Tahun lalu, total jumlah pengunjung sekitar 54 rib

u dengan 41 ribu di antaranya turis domestik. Pengelola memberlakukan tarif “diskriminatif”: turis asing dikenai tiket masuk Rp 150 ribu untuk sekali kunjungan, sedangkan turis domestik hanya Rp 5.000.
Namun ada kabar baik yang bisa menyelamatkan kawasan taman nasional ini. Di sana ada hukum adat yang melarang jual-beli tanah di sekitar taman nasional. Bila dilanggengkan, local wisdom itu akan mencegah perubahan peruntukan lahan menjadi untuk bangunan komersial seperti hotel dan resor. Selain itu, ada kepercayaan masyarakat lokal bahwa jiwa atau arwah orang yang meninggal akan datang ke Kelimutu dan masuk ke salah satu danau. “Tempat ini dianggap sakral. Keyakinan itu membantu menyelamatkan danau,” kata Wibawanto.

Sumber : Tempo.co / AHMAD NURHASIM

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »