Liang Ndara, desa adat para petarung Caci

Dua pria dengan pakaian adat lengkap dengan gemerincing lonceng, bertarung saling melecut. Fisik mereka ditutupi tameng pada bagian kepala, tangan dan pinggang. Sementara tangan kanan memegang pecut yang digunakan saat melompat ke arah lawan.

Itulah salah satu sajian yang paling menyedot perhatian pengunjung Festival Komodo yang berlangsung pada Maret lalu. Tari Caci namanya, tarian perang khas masyarakat Manggarai, Flores Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Mereka adalah penduduk asli Kampung Cecer, Desa Liang Ndara, salah satu desa adat yang hingga kini terus melestarikan budaya ini. Berjarak 30 kilometer dari Labuan Bajo, desa ini masuk dalam kawasan wisata budaya di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores Barat, NTT.

Anda bisa menempuhnya melalui jalur Trans Flores dengan waktu perjalanan sekitar satu jam menggunakan mobil atau motor.

“Sebenarnya tarian Caci ini mengajarkan kepada manusia semua tentang hidup dan kebaikan, peningkatan kedewasaan dan kematangan seorang laki-laki, serta mengajarkan bagaimana strategi ketika menerima tekanan,” terang Kristoforus Nison (47) pendiri sanggarpadepokan Riangtana Tiwa pada Beritagar.id, Jumat (9/3/2018) di Kampung yang berada di kaki Gunung Mbeliling itu.

Seperti diceritakan sosok yang akrab disapa Kris ini, Tari Caci merupakan gambaran kehidupan yang bersinergi antara alam dan manusia. Tarian ini juga merupakan gambaran proses kedewasaan kaum lelaki Manggarai.

Kedewasaan yang dimaksud adalah, para laki-laki yang kelak akan menjadi pemimpin harus bisa membedakan baik dan buruk, menyusun strategi, dan yang terpenting meredam emosi serta tak menyimpan dendam.

Konon nama “Caci” bermakna satu lawan satu. Yang diambil dari asal kata “Ca” yang berarti satu, dan “Ci” yang bermakna lawan.

Tari ini mengajarkan betapa manusia tak boleh bertingkah sombong, mencaci, memaki, berkelahi, dan mencuri. Semua ajaran kebaikan, tersirat dalam setiap gerakan Tari Caci.

Sebagai contoh, ketika tameng lawan terlepas dari genggaman, petarung satunya harus memberikan kesempatan kepada lawan untuk mendapatkan kembali tameng tersebut. Petarung tak boleh menyerang ketika kawan lemah, atau tak memiliki perlengkapan tarung memadai.

Mengenal Tari Caci

Salah satu laga pertarungan Tari Caci di Kampung Cecer, Desa Liang Ndara, Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Salah satu laga pertarungan Tari Caci di Kampung Cecer, Desa Liang Ndara, Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur. /Shutterstock

Di desa yang sangat terasa sejuk dan asri ini, sejak kecil laki-laki sudah diperkenalkan dengan budaya Caci.

Saat usia Sekolah Dasar, anak-anak mulai belajar dengan menonton Tarian Caci, kemudian mendapat penjelasan teorinya. Beranjak ke bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), mereka diperkenalkan pada alat-alat yang digunakan, seperti tudung, kerincing, sarung, tameng, dan pecut.

Kemudian pada masa Sekolah Menengah Atas (SMA), mulailah mereka diajarkan cara bertarung Caci, yang meliputi Lomes, Bokak, dan Lime.

Lomes adalah keindahan gerak tubuh dan pakaian yang digunakan oleh penari. Bokak merupakan seni vokal, sedangkan Lime adalah ketangkasan mencambuk dan menangkis.

Tari ini digelar saat masyarakat menuai padi, pada resepsi pernikahan, serta acara lain yang turut mengundang tamu agung.

Ada banyak sekali padepokan Tari Caci yang berada di kawasan Manggarai, namun khusus untuk Kabupaten Manggarai Barat, padepokan Riangtana Tiwa, Desa Liang Ndara, merupakan perkumpulan yang cukup dikenal dan menjadi rujukan para wisatawan yang ingin melihat pergelaran Tari Caci secara langsung.

“Selain tampil di desa, kami telah diundang di beberapa tempat, termasuk salah satunya di Jakarta,” terang Kris.

Saat ini menurut Kris, sekira ada 30 anggota tetap penari caci, serta 70 anggota tak tetap. Para anggota tak tetap ini akan menggantikan para pemain utama jika berhalangan. Selain itu mereka juga akan menjadi pengiring melalui musik dan lagu-lagu saat tarian tersebut digelar.

Karena struktur Tarian Caci itu terdiri atas; penari, pengiring, musik, dan petarung.

Lagu pada tarian adat Caci yang cukup riang, mengisahkan tentang kehidupan alam dengan manusia. Lagu-lagu itu biasa mereka sebut; sanda, danding, mbata, kesar, dan caci.

Sementara kaum perempuan di desa ini bertugas merajut aksesori perlengkapan Tari Caci, seperti manik-manik yang terdapat dalam tudung kepala, sarung adat, serta kain pelindung kuping dan pengikat tameng.

Sebelum Tarian Caci ditampilkan, Anda juga dapat menyaksikan para perempuan beraksi dalam tarian bambu yang menggambarkan keceriaan, ketepatan dalam melangkah, serta nyanyian-nyanyian merdu, yang memompa semangat para petarung Caci.

Para pengiring Tarian Caci dari sanggar padepokan Riangtana Tiwa di Kampung Cecer, Desa Liang Ndara, Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Para pengiring Tarian Caci dari sanggar padepokan Riangtana Tiwa di Kampung Cecer, Desa Liang Ndara, Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur. /Shutterstock

Peningkatan ekonomi masyarakat

Kepala Desa Liang Ndara, Karolus Vitalis (49) mengatakan, bahwa pemerintah setempat telah melirik desa yang terletak di kaki Gunung Mbeliling itu sebagai salah satu dari enam desa tujuan destinasi wisata adat.

Karenanya ia mengupayakan sinergi dengan para pihak terkait untuk terus membenahi Desa Liang Ndara guna peningkatan ekonomi masyarakat atas kunjungan turis.

Dikatakan Karolus, pemerintah Kabupaten Manggarai Barat bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten merencanakan membangun penginapan (guest house) guna menampung wisatawan yang ingin menginap di desa itu.

“Saat ini memang belum banyak rumah yang diperuntukkan sebagai penginapan, namun ke depannya akan disediakan tempat khusus. Saat ini masih menggunakan rumah warga yang memang diperuntukkan sebagai penginapan para tamu. Tapi tak banyak,” ungkapnya.

Desa adat Liang Ndara sebagai salah satu destinasi wisata budaya, juga akan memiliki sebuah bangunan yang diperuntukkan sebagai penyedia buah tangan khas desa.

Senada dengan Karolus, Kris juga mengatakan bahwa penampilan Tari Caci yang saat ini mulai rutin digelar, meningkatkan ekonomi warga desa. Terlebih ketika musim kunjungan wisata pada periode Juni-Oktober, setiap anggota minimal mengantongi Rp1-3 juta rupiah.

Sebuah angka yang cukup bagi warga desa yang kebanyakan mengandalkan kegiatan bertani, dan mengelola kebun buah, semisal; duren, manggis, kelapa, pisang, dan jeruk bali.

Selain itu, jika Anda menyukai kopi, desa ini juga merupakan desa penghasil kopi Flores dan gula aren.

Satu bungkus kopi Flores 300 gram, dapat Anda bawa pulang dengan Rp50 ribu. Jika Anda tertarik untuk mencicipi gula aren sebagai campuran pemanis teh atau kopi, siapkan saja Rp25 ribu untuk tiap liternya.

Selain melihat kesenian dan budaya, Anda juga dapat menikmati wisata alam melalui tiga air terjun yang ada di desa ini, yakni Liang Kantor, Wae Rebus, dan Wae Satar.

“Pada 2017 saja ada sekitar 1.835 pengunjung ke desa ini, tentunya tahun ini diharapkan lebih besar lagi,” terang Kris yang menjabarkan kunjungan wisatawan domestik masih lebih dominan ketimbang wisatawan asing.

Tarian Caci merupakan satu dari 7 obyek wisata NTT yang masuk daftar Anugerah Pesona Indonesia tahun 2018. untuk memilih obyek wisata ini anda tinggal mengetik API 8H kirim ke 99386. Ayo jangan tinggal diam. lakukan Vote untuk memenangkan Tari Caci.

Sumber, Beritagar/Mustafa Iman

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »