DUC IN ALTUM, Bangkit Membangun Umat Lebih Dalam

Kamis, 27 September 2018

Laporan: yasintus fahik

Bertolaklah ke tempat yang dalam -‘DUC IN ALTUM’-. Menurut Gubernur VIKTOR, mirip seperti motto VICTORY– JOSS, -Kita Bangkit Kita Sejahtera-. Duc In Altum, sebuah pesan keberanian. Bahwa tidak ada pekerjaan di dunia ini dengan cuma-cuma, dengan kecil-kecil, dan dengan semangat yang asal-asalan.

Mgr. Ewaldus

Maumere, flobamoraspot.com – GUBERNUR Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laisodat mengharapkan, dalam membangun kehidupan umat (rakyat) menuju kesejahteraan perlu kerjasama antara pemerintah dan gereja.

“Saya mengharapkan perlu ada kerjasama yang saling terpadu antara pemerintah dan gereja. Dengan semangat kebersamaan dan persatuan yang kita miliki kita bisa bangkit dari kemiskinan. Dan untuk menggapai kesejahteraan bersama, kita perlu membangun kerjasama yang lebih dalam. Bukan kerjasama dalam kemunafikan dan kepura-puraan. Bukan kerjasama yang asal-asalan. Akan tetapi kerjasama yang betul-betul pada hakekatnya dan hakikinya saling membangun lebih dalam dari semangat persatuan yang kita miliki,”tegas Viktor.

Gubernur Viktor mengingatkan hal itu dalam sambutannya pada acara Pentahbisan Uskup Maumere, Mgr. EWALDUS Martinus Sedu di Gelora Samador Maumere, Rabu 26 September 2018.

Melalui semangat kerja keras dan kebersamaan lebih dalam (Duc In Altum), menurut Viktor, kita bisa bangkit dari keterbelakangan.  Soal kemiskinan dan keterbelakangan kita di Provinsi NTT ini, menjadi tugas kita semua untuk melakukan upaya-upaya bersama. Iya, pemerintah, pihak gereja dan semuanya untuk menjadikan masyarakat NTT bisa bangkit dan melangkah maju menuju kesejahteraan.

Saya (Gubernur Viktor) sedih memandang bila potret NTT berhadapan dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia. Bahwa kita menjadi provinsi termiskin urutan ketiga.  Tetapi kita juga berbangga bahwa NTT juga telah memberikan sumbangan untuk mencerdaskan dan mencerahkan bangsa –bangsa lain di dunia. Kita punya misionaris-misionaris yang hebat yang kita kirim ke belahan dunia untuk mengajarkan tentang kasih. dan cinta. Tetapi sayangnya rahimnya sendiri hidup dalam penderitaan luar biasa.

Ini catatan kritis bagi pemerintah dan gereja juga kita semua, lanjut Viktor. Kita patut malu. Dan karena malu kita harus kerja luar biasa, kita harus kerja dengan keberanian dan kejujuran hati. Baik pemerintahan maupun gereja. Karena tidak ada waktu lagi untuk hidup dalam kepura-puraan. Pura-pura baik, pura-pura kerja. Kita harus mulai dengan jati diri kita.

Kalau memang kita kurang mari kirta sama-sama menjadikan NTT lebih baik lagi. Kalau kita malas mulailah dari diri kita untuk menjadi rajin. Kalau memang selama ini kita malas mulailah berbenah diri. Kalau memang kita bodoh minta pengajaran untuk kita menjadi pintar. Dan hidup membawa kasih karunia Allah itu di tengah masyarakat. Tunjukkan bahwa Allah kita adalah Allah yang luar biasa. Bukan kita terus menunjukkan kemiskinan kita dan menjadi provinsi termiskin ketiga di Indonesia, beber Viktor.

Karena itu saya mengharapkan kerjasama antara pemerintah dan gereja bukan kerjasama dalam kemunafikan dan kepura-puraan. Akan tetapi kerjasama yang betul-betul pada hakekatnya saling membangun dari semangat persatuan yang kita miliki.

“Itulah catatan kritis dari saya sebagai Gubernur Provinsi NTT. Saya tidak ingin mati meninggalkan provinsi NTT ini tetap miskin. Tapi saya ingin kalau memang kehendak Allah kepada saya jadikanlah NTT ini sejahtera. Kalau memang kehendak Allah mecabut nyawa saya namun perkenankanlah saya mewujudkan kesejahteraan masyarakat NTT,”ucap Viktor.

Sembari mengajak, mari bersama kita bekerja bersama-sama  membangun NTT. Kita bekerja cerdas kita bekerja keras untuk mengentaskan kemiskinan di NTT. Kita harus pastikan ke depan tidak ada lagi lagi mayat-mayat yang datang  karena bekerja jadi budak-budak di negeri orang. Ke depan kita harus pastikan hal itu tidak boleh terjadi lagi. Itu adalah tantangan bersama. Tantangan pemerintah dan gereja.

Upaya untuk mensejahterahkan masyarakat adalah tantangan kita bersama, gereja dan pemerintah. Kita harus mampu menyelesaikan itu. Karena Tuhan telah mengaruniakan kita talenta. Memberikan kekayaan yang luar biasa.

NTT kalau disebut gizi buruk nomor satu di Indonesia. Tapi alam kita memberikan potensi yang luar biasa. Mari kita mengelola sumber daya alam yang ada dengan menanam tanaman kelor yang memberikan gizi dari pangan kita ini.  Mulai hijaukan setiap lahan dengan tanaman kelor. Mulailah mengkonsumsi kelor agar sehat dan kuat membangun NTT.

Lebih jauh kata Viktor, kita juga punya potensi garam yang tidak bisa dilawan dimanapun. Tetapi kita berhadapan dengan masalah lahan yang mengakibatkan perkara di pengadilan. Dan  itu salah satu penyebab  kemiskinan.  Karena terus berperkara.

“Akan tetapi saya minta tolong aparat penegak hukum dan kita semua, untuk tetap bekerjasama membangun kita orang NTT.  Tolong bawa ke tempat yang lebih dalam. Bawalah masyarakat kita hidup ke tempat yang dalam yakni kesejahtaraan,” pinta Viktor. +++ amor/cnc

Reporter : Armando WS/CNC

Editor : marthen radja

Gambar : R.D Ewaldus Martinus Sedu, turun dari mobil Fortuner dengan Nomor Polisi L 276 VJ, hadiah dari VIKTOR Bungtilu Laiskodat dan JOSEF A. Nae Soi, menuju ke lokasi Pentahbisan, Gelora Samador Maumere, Rabu 26 September 2018

Foto : doc.CNC/dinas kominfo kab.sikka

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »