Uang dan Status Sosial Tidak Bisa Memberikan Kebahagiaan

Rabu, 3 oktober 2018
Laporan: jen salem

AS, flobamora,spot.com – selama sehari orang muda katolik(OMK) dari 8 paroki mengikuti Konferensi Anak Muda. Kegiatan ini melibatkan 400 lebih anak muda dari paroki-paroki yang dipimpin pastoe Serikat Sabda Allah(SVD).

Pastor paroki Roh Kudus Opelousas P. Lambert Lein dari Amerika Selatan pertelepon kepada tirilolok Senin malam  waktu Amerika atau Selasa pagi waktu Indonesia tengah mengatakan, setinggi tingginya ilmu seseorang di dasar hatinya tetap ada kerinduan terhadap yang Ilahi karena manusia diciptakan oleh Yang Ilahi untuk Yang Ilahi.

“anak muda yang hadir dalam kegiatan konferensi anak muda SVD ini haus akan yang ilahi itu. uang dan status sosial tidak bisa memberikan kebahagiaan. kebahagiaan itu hanya bisa ditemukan ketika orang berjumpa dengan Allah. makanya santu Agustinus mengatakan jiwaku tidak akan merasa tenang kalau aku tidak beristirahat dalam ALLAH”, katanya dalam wawancara on Air bersama Radio Tirilolok Selasa (2/10).

ditanya Jen Salem dari studio siaran Tirilolok tentang apa tema kegiatan ia menjelaskan tema pertemuan anak muda ini yakni ” anak muda tunjukan imanmu”, dengan pembicara seorang kuasa hukum yang berbicara tentang pilihannya sebagai seorang manusia dengan tawaran yang Tuhan berikan.

“dia mengemukakan bahwa dalam lika liku kehidupan Tuhan masih sangat penting”, ujarnya.

“jadi,dia mengajak anak muda karena sebenarnya mereka bisa menunjukkan iman mereka tidak dengan hal luar biasa tapi dengan melkukan hal kecil di rumah, di sekolah dan kehidupan sosial mereka, itu mereka sudah menunjukkan bahwa mereka memiliki iman”, tambahnya lagi

Ia mengatakan, setelah materi peserta dibagi 2 kelompok lalu bruder SVD dan suster SSpS membagi pengalaman menjalani kehidupan khusus sebagai orang terpanggil biarawan dan biarawati, lalu anak2 mengajukan pertanyaan yg mungkin bagi kita sangat mengejutkan

“misalnya, kalo kamu memilih hidup ini (membiara) berarti kamu tidak menikah ? lalu saya kebetulan mendengar pertanyaan itu saya keluar menemui mereka. saya menjawab mereka dengan membagi pengalaman saya tentang suka duka menjadi imam. lalu saya punya satu point yang bisa di terima mereka bahwa kebahagiaan tidak bisa terjadi dari apa yang kita dapat tetapi juga dari apa yang kita bisa beru”, ungkapnya

ia mengatakan, kegiatan ini merupakan momentum yang baik bagi anak-anak muda untuk menarik diri sejenak dari hiruk pikuk kehidupan mereka yang serba cepat dan melihat hidup dari aspek lain.

ia mengatakan jika generasi 80-an melihat Tuhan sebagai sang pencipta, maka bagi generasi milenial konsep tentang Tuhan itu sudah berbeda.

” bagi generasi milenial konsep Tuhan itu sudah bergeser. anak milenial bicara Tuhan itu adalah Tuhannya orang islam,Tuhannya orang Hond, katolik,protestan, Tuhannya dunia. pesan saya kepada anal muda di NTT, jangan membiarkan dunia menggiring dirimu ke tempat yang tidak kamu kehendaki, kamu harus menentukan arah ke mana kamu harus pergi. dan tempat yang kamu tuju akan baik jika kamu berkooperasi dgn Tuhan. ketika kamu sudah menggeser Tuhan dalam hidupmu maka dunia akan mengombang-ambingkan kamu hidup dalam ketidakpastian”, Katanya.

Menurut dia, ketika dunia semakin canggih masih ada Tuhan yg kita butuhkan. “Tuhan itu bukan sebuah pilihan tetapi Tuhan adalah kebutuhan”, pungkasnya

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »