Pembangunan Mahal Tapi Membangun Tanpa Data Lebih Mahal

Selasa, 23 Oktober 2018
Laporan: yasintus fahik
Kupang, flobamoraspot.com – Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur Selasa (23/10) Menggelar Expose Data dan Workshop Wartawan. Gubernur Nusa Tenggara Timur dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur Wayan Darmawa mengatakan, Perencanaan Pembangunan harus didasarkan Pada Data.

“Perencanaan pembangunan didasarkan pada data yang akurat. Pembangunan mahal tapi membangun tanpa data akan lebih mahal”, Kata wayan saat membuka kegiatan tersebut di Hotel Sotis.
Menurut dia, sampai saat ini data belum menjadi bagian penting dalam pembangunan.
“Harus jujur kita katakan bahwa setiap kita mengusulkan perencanaan pembangunan belum pernah kita memiliki satu data secara utuh apa yang dipahami di desa, kecamatan, apa yang dipahami di Kabupaten Kota Propinsi dan Nasional? Akhirnya Presiden mengeluarkan Instruksi untuk membangun Indonesia dalam satu data, membangun Indonesia dalam satu Peta”, ujarnya.
Kepala BPS NTT Maritje Patiwaellapia mengatakan, BPS merupakan lembaga non Kementrian yang bertanggungjawab langsung kepada Presiden. “Kedudukannya Independent. Kita juga mengontrol data yang akan diekspose lembaga lain”, katanya.
Pada kesempatan itu Maritje memaparkan berbagai isu strategis antara lain isi ekonomi, isu geografis, isu sosio demografi, isu kemiskinan dan ketimpangan dan isu Politik dan Pemerintahan.

Dr. Agus Nalle dari Universitas Nusa Cendana mengatakan, persoalan data merupaka kebutuhan semua pemangku kepentingan.
” Kami bisa hasilkan data namun sering tidak digunakan oleh lembaga lain karena butuh penyesuaian. Untuk mendapatkan data kami habiskan dana cukup besar:, ungkap Dr. Nalle.
Menurut dia Data bisa menggambarkan kondisi masa lalu atau saat ini. Baik secara kwantitatif maipun Kwalitatif.
“Kalau data tersedia dengan baik maka akan memudahkan Bappeda dalam melakukan perencanaan:, katanya.

Boby Liyanto, wakil Ketua Umum Kadin NTT mengatakan, Kadin melihat data sebagai sumber utama dalam berbisnis. “Kita tidak mungkin asal berinvestasi. Dan BPS jadi sumber data selama ini. BPS itu seperti bahan dasarnya dan Badan penanaman modal harus meramu mengelola data dasar itu sehingga
Investor yang datang bisa melihat data ini. Mereka akan tertarik datang ke NTT”, kata Boby.
Ia meminta Wartawan untik mengekspose potensi ekonomi yang ada di NTT agar mendatangkan investasi.
“Salah satunya adalah pariwisata. Kalo kita sudah berhasil mendatangkan wisatawan maka mereka bisa juga berinvestasi.
Selain 4 pembicara di atas panitia menghadirkan juga Heri Drajat Raharja yang membawakan Materi IPM dan ITK, Albert Kristian Lukan dengan materi tentang Kemiskinan, Abdul Azis dengan Materi tentang Inflasi. Tampil pula I Gde Made Suwartana yang memaparkan materi tentang Pertanian dan Yesua Harnold Abel yang membawakan materi tentang PDRB.
Kegiatan dihadiri 150 peserta dari berbagai unsur dan 30 wartawan aok cetak elekteonil maupun on line.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »