Wartawan Ikut Sukseskan Program Pencegahan HIV AIDS

Jumat, 30 November 2018
Laporan: Ellena Christine
Kupang, flobamoraspot.com – Human Immunodeficiency Virus, (HIV), adalah virus yang menyebabkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Sejak puluhan tahun lalu Isu ini didorong oleh Pemerintah Kota Kupang dengan menghadirkan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD). Di bawah KPAD ada sebuah Komunitas bernama Komunitas Jurnalis Peduli HIV dan AIDS (KJPA) yang merupakan kumpulan wartawan yang konsern di isu HIV sejak 2008. Sejak kehadirannya pada 2018 hingga saat ini baru satu kali mendapat penguatan kapasitas sebagai wartawan peliput HIV pada 2018 silam. KPAD Kota Kupang merasa perlu melakukan kegiatan yang sama dan hal itu terlaksana pada 29 -30 November 2018.
“Wartawan yang tergabung dalam Komunitas Jurnalis Peduli HIV dan AIDS ikut menentukan keberhasilan berbagai program yang dijalankan Komisi Penanggulangan AIDS – KPAD Kota Kupang. Pertemuan ini juga kerinduan kami, karena saya tidak salah terakhir kita ketemu itu 2008 jadi sudah 10 tahun kita tidak ketemu dalam forum seperti ini”, kata Sekretaris KPAD Kota Kupang Steven Manafe saat membuka kegiatan tersebut di Aula Rumah Jabatan Wakil Walikota Kupang Kamis (29/11/2018)
Stev Manafe merilis, hingga September 2018 jumlah kasus HIV AIDS di kota Kupang mencapai 1.376 kasus.
“Rinciannya HIV 960, AIDS 416. dari sisi usia 25 – 49 tahun 1.050 kasus, disusul usia 20 – 24 tahun sebanyak 192 kasus, swasta 20 Persen, IRT 13 persen dan PSK 10 persen. Kalo dari segi wilayah kecamatan, Maulafa 19 persen, Kelapa Lima, Alak dan Oebobo 17 persen dan Kota Lama dan Kota Raja 15 persen”, katanya.
Kalangan Swasta menduduki urutan teratas sebanyak 20 persen disusul ibu Rumah Tangga 13 Persen dan PSK 10 Persen, sedangkan jika dilihat perkecamatan Maka Kecamatan Maulafa lebih tinggi.
“2017 temuan kita 253 kasus maka tiap bulan 21 kasus. kenaikannya hanya 1,75 persen perbulan. 2018 108 kasus”, urainya.
Sementara itu, Nara Sumber Kegiatan Peningkatan Kapasitas Wartawan Peliput berita HIV AIDS, Monika Wutun menegaskan, Wartawan peliput HIV AIDS harus lebih Empaty dala memnulis sebuah berita penderitaan.
“Apalagi menulis tentang orang-orang HIV. Kita tulis kelompok berisiko tinggi saja itu sudah stigma luar biasa itu. Kita tulis saja kelompok beresiko karena mereka sudah sadar bahwa mereka itu kelompok rentan”, tegas Dosen Komunikasi FISIP Undana ini.
Menurut Monik, pemilihan kata untuk menjadikan berita HIV dan AIDS bombastis, seringkali membuat kelompok beresiko tidak manusiwi.
“Empati itu tidak boleh mengeksploitasi penderitaan orang. Tidak boleh sama sekali. Tampilkan apa adanya. Kalo tiba – tiba kita ketemu dia kita lihat bahwa dia kurus kita tulis dengan baik supaya dia tidak merasa terhina. jangan kita katakan tinggal kulit membungkus tulang. itu dia yang baca sakit tu”, ungkapnya.
Masih menurut dia, media harus menjaga etika karena ketika orang berhenti membaca atau mendengar, saat itulah kehancuran sebuah media dimulai.
“Kalo orang tidak lagi membaca atau mendengar media kita saat itu kehancuran datang. Musuh utama TV itu remote. kalo orang pegang remote dan memindahkan chanel maka selesai sudah. rating langsung turun dan iklan banyak hilang. Antara berita dan Bisnis harus berimbang”, jelasnya.
Pengelola Program KPAD Kota Kupang Siti Hasnah yang tampil pada hari kedua mengatakan, HIV itu unik.
“Dari segi angka dia unik. Di Undang-Undang Kesehatan nomor 35 tahun 1999 disebut Penyakit, karena dia punya tanda, jamur di mulut, pembengkakan getah bening, tapi saat kita menulis jangan pake kata Penyakit HIV. juga tidak kata Virus HIV karena kata V di belakang HIV itu adalah Virus, jadi cukup tulis HIV saja. Nampak Sehat tapi punya virus. Ganteng tapi ada virus dalam tubuh. Jadi ini Karakteristik khusus yang harus kita pelajari bahwa menulis HIV memang ini keunikan-keunikannya”, jelas Siti.
Ia menjelaskan, HIV tidak mudah menular seperti Hepatitis dan TBC. “Tetapi angkanya naik terus. Katanya tidak mudah menular. Satu Indonesia ni sudah sampai jutaan. Epidemiloginya paling ditakuti karena sebarannya makin meluas. Penularannya terbatas melalui 4 cairan. Cairan Vagina, Cairan Sperma, ASI dan Dalam darah. Di darah juga kalau duduk begini saya mengeluarkan darah juga tidak menularkan, karena dengan suhu udara yang panas ini dia langsung mati. Dia tidak menular tapi stigma besar, sehingga penulisan harus lebih Empati dan humanis. Kalo Empati itu berarti menulis tapi tidak boleh menangis. Menulis tapi tidak boleh simpati. Kalo simpati berarti saya naksir sama ODHA itu. Ya kalo mau upahnya besar di Surga selamatkan dia dari lingkungan itu”,ucap dia.
Menurut dia, HIV dan AIDS memiliki permasalahan ikutan yang beragam. “Satu Kata HIV dan AIDS tapi Completed soalnya. Kalo TBC ya TBC saja, Kita begitu takut dengan HIV tapi tidak dengan Hepatitis, Sakit kuning kita tinggal serumah tidak takut, kalo dengan HIV kita takut padahal isi separuh tubuh orang HIV adalah bisa saja Hepatitis. Kita takutnya di kata HIV”, urainya.
Ia mengatakan, HIV muncul karena perilaku bukan moral. “Saya HIV, Hamil bayi HIV. Nah calon bayi saya itu bukan orang yang sudah berganti-ganti pasangan. dia korban dari perilaku. Makanya kemarin disampaikan Jurnalisme Empati, karena ada hal yang harus ditulis lebih humanis”, katanya.
Dalam data HIV adalah banyak kalangan yang disebutkan, namun ada pihak yang tidak disebutkan. “Hanya ditulis Dan lain-lain. Ada siapa di situ belum bisa disebutkan karena masih ada stigma dan diskriminasi yang tinggi”, katanya.
Anggota KJPA yang ikut dalam Kegiatan dua hari itu antara lain, Wartawan Pos Kupang, Timor Expres, Victory News, Radio Suara Timor, RRI, NTT Terkini.dom, Flobamoraspot.com, LensaNTT dan Metronews.me.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »