Gubernur NTT: Pembangunan Secara Inklusif, Wujud Kelahiran Yesus

Jumat, 4 Januari 2019

Laporan: Ellena Christine

Kupang, flobamoraspot.com – Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) dan Keuskupan Agung Kupang (KAK) menggelar Natal Eukumene yang dipusatkan di Gereja Kaisarea Kolhua. Ibadat Natal dipandu Pendeta Aplonia Gasper – Leba dan Romo Simon Tamelab, Pr. Ketua Sinode GMIT Pendeta Mery Kolimon membawakan suara Gembala, Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang, Pr sebagai pengkhotbah dan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat yang menyampaikan Pesan Natal.  Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat dalam pesan Natal pada perayaan Natal Eukumene di gereja Kaisarea BTN – Kolhua Jumat (4/1/2019) mengatakan, isu terbesar saat ini yakni tentang dunia baik tentang planet, people, property, pathnership dan peace.

“untuk itu saat ini Gubernur bersama Wakil Gubernur mendorong pembangunan secara inklusif, pembangunan yang melibatkan semua dan itu merupakan perwujudan dari pada kelahiran Yesus”, kata Viktor Laiskodat.

Dia menuturkan pesan Natal pertama kali yakni jangan takut dan pesan Natal itu diberikan kepada golongan manusia yang tidak pernah dihormati di dalam wilayah budaya peradaban abad ini, kelompok manusia yang diberikan nama gembala adalah mereka yang tidak diperkenankan untuk masuk dan memberikan kesaksian di pengadilan.

“Kalau kita lihat di NTT ini banyak sekali orang-orang NTT yang masih bodoh, banyak juga masih miskin. Saat ini NTT berada di peringkat ke 3 termiskin di Indonesia”, tambahnya lagi.

Dia mengatakan, saat ini pemerintah, gereja dan seluruh lembaga yang ada di NTT harus bekerjasama mendorong kemajuan di NTT.

Menurut Viktor, dia turut mengapresiasi partisipasi dari gereja-gereja yang ikut mengambil bagian dalam pembangunan NTT.

“Dan saya selalu bilang persoalan utama adalah kita tidak pernah serius membangun manusianya”, ujar Suami Julia Sutrisno Laiskodat itu.

“Saat ini dimana saja kita dapat menemukan gedung-gedung mewah tapi kita sulit menemukan hati yang mewah dan pikiran-pikiran mewah di desa-desa” ujar Mantan Anggota DPR RI itu lagi.

Ia menambahkan, saat ini tidak perlu terlalu banyak mendirikan rumah-rumah ibadat tetapi kita share saja kita pakai bersama tetapi dibagi setiap jam saja.

“Gedungnya mewah lalu manusianya bagaimana?”, ungkapnya.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »