Angela Tekla Dapat Kursi Roda Dari Gubernur NTT

Selasa, 22 Januari 2019
Laporan: yasintus fahik

Kadissos NTT Welem Foni, Karo Humas NTT Semuel Pakereng bersama beberapa ASN saat menyalurkan kursi roda kepada Angela

Kupang, flobamoraspot.com – AngelaTekla Skolastika Mene (8) merupakan penderita Hidrosefalus (penumpukan cairan di dalam rongga jauh di dalam otak) sekian lama.
Informasi tentang Angela sampai ke telinga Gubernur NTT Viktor Laiskodat beberapa waktu lalu.
Sosok dermawan itu langsung memerintahkan Kadis Sosial untuk memberikan bantuan kepada Angela pada Senin (21/1/2019).

Bantuan dari Gubernur NTT Viktor Laiskodat tersebut diterima langsung oleh Ibu kandung Angela Eryana Abuk Bere di kediaman mereka di RT 15 RW 04 Kelurahan Tuak Daun Merah Kecamatan Oebobo Kota Kupang, (Senin,21/1/2019)

“Ini merupakan bantuan kemanusiaan dan kepedulian Bapak Gubernur atas penyakit yang diderita oleh anak Angela”, ujar Willem Foni usai menyalurkan bantuan Gubernur Laiskodat.

Eryana, Ibu kandung Angela sangat bahagia dan tak menyangka bantuan begitu cepat di terima. “Terima kasih Bapak Gubernur”, ucapnya.

Karo Humas, Samuel Pakereng, Karo Kesra dan tetangga sekitar turut menyaksikan penyerahan bantuan kursi roda.

Dikutip dari hellosehat.com; Hidrosefalus adalah kondisi yang ditandai oleh ukuran kepala bayi yang membesar secara tidak normal akibat adanya penumpukan cairan di dalam rongga ventrikel otak.

National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS) melaporkan bahwa sekitar dua dari 1000 bayi yang lahir di dunia mengalami hidrosefalus. Sementara itu, kasus hidrosefalus di Indonesia rata-rata bisa mencapai 4 per seribu kelahiran. Lantas, apa saja faktor risiko terjadinya hidrosefalus pada anak?

Beragam faktor risiko hidrosefalus pada anak

Otak normalnya mengandung cairan bening yang diproduksi dalam rongga ventrikel otak. Cairan ini disebut dengan cairan serebrospinal. Cairan serebrospinal mengalir dari sumsum tulang belakang ke seluruh otak untuk menunjang berbagai fungsi otak.

Namun ketika jumlahnya berlebihan, ini justru akan mengakibatkan kerusakan permanen jaringan otak yang menyebabkan terganggunya perkembangan fisik dan intelektual anak.

Sebagian besar kasus hidrosefalus pada anak terjadi sejak lahir (cacat lahir bawaan/kelainan kongenital). Selain itu ada beberapa kondisi yang memperbesar peluang terjadinya hidrosefalus pada bayi baru lahir, seperti:

Sistem saraf pusat tidak berkembang dengan normal sehingga menghalangi aliran cairan serebrospinal;

Adanya perdarahan di dalam ventrikel otak, yang memicu kemungkinan bayi lahir prematur;

Ibu mengalami infeksi yang menyerang rahim selama kehamilannya, sehingga timbul peradangan di jaringan otak janin. Misalnya infeksi rubella, toksoplasma, gondok atau cacar air.

Pada kasus hidrosefalus yang baru terjadi setelah anak tumbuh besar, faktor risikonya termasuk cedera pada kepala yang mengenai otak, atau:

Tumbuh tumor di otak atau sumsum tulang belakang;

Infeksi pada otak atau sumsum tulang belakang;

Perdarahan di pembuluh darah otak;

Operasi kepala.

Sumber : Humas Pemprov NTT, gardaindonesia.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »