Perahu Saya Dihantam Ombak Musim Barat

Kamis, 21 Februari 2019
Laporan: yasintus fahik

Tom Daulima dan Anak buahnya Minggus sedang perbaiki perahu yang rusak

Kupang, flobamoraspot.com – Siang itu Kamis (21/2/2019) tak ada agenda rutin kegiatan Pemerintah Kota Kupang yang dishare lewat grup Humas. Saya lalu mencoba cari pekerjaan apa yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu yang kosong. Saya berpikir lebih baik saya ke Obyek wisata pantai yang ada di Kota Kupang. Semula saya mengagendakan akan berkunjung ke Obyek wisata Jembatan Mangrove di pantai Oesapa Barat., namun agenda itu berubah saat saya menuruni punggung bukit Sasando dan menapaki jalan Timor Raya.
“Di depan sini ada pantai Paradiso yang sejak lama bisa akses masyarakat Kota Kupang yang akan melepas penat di Hari libur. Dari pada jauh-jauh lebih baik masuk saja ke Pantai Paradiso”, kataku membatin.
Sayapun membelokkan sepeda motor ke Kiri setelah Restoran Phonix.
Ada rasa kecewa ketika motor yang saya tumpangi memasuki area Paradiso. Jalan masuk yang berbatu membuat kesan pertama tak begitu menggoda. Kekecewaan saya makin lengkap ketika merangsek lebih dalam ke Obyek wisata itu. Tidak ada fasilitas pantai yang membuat orang betah di situ untuk menikmati udara laut. Ada pembangunan jalan sekitar 400 meter di pinggir pantai. Pembangunan jalan dengan pinggir agak tinggi bisa langsung dipakai sebagai tempat santai apalagi dibawah pohon rindang ditambah hembusan angin sepoi-sepoi. Dua sejoli siang itu tak mau beranjak dari tempat itu. Flobamospot yang terganggu dengan pemandangan itu lalu mendatangi dua anak “Zebedeus” yang sedang memperbaiki perahunnya yang rusak. Bagian depan perahu berukuran 1×7 meter itu patah diobrak – abrik ombak pada 21 Januari 2019.
“Perahu saya dihantam ombak musim Barat om”, Kata Tom Daulima warga RT 04 RW 02 Kelurahan Kelapa Lima kepada Flobamoraspot.com Kamis (21/2/3029).
“Ketika itu saya berada di atas perahu. Saya jaga perahu ini pak. Waktu itu air laut masuk dalam perahu jadi saya basah semua. Hp saya terendam air jadi rusak. Ada coolbox dan air minum di satu jerigen 5 liter saya berusaha selamatkan. Merasa nyawa terancam saya tinggalkan perahu dan saya turun ke darat. Dari darat saya memandang perahu saya dan teman-teman yang ditambatkan di ujung Barat pantai Paradiso dihantam ombak. Saya lalu memutuskan untuk pulang. Waktu pulang saya lihat obyek wisata ini penuh air laut. Ombak tinggi sekali. Bayangkan ini tembok penahan tinggi sekira 4 meter tapi air lari lewat. Lihat ini pasir di atas jalan”, kisah pria asal Rote yang mengenal laut sejak usia belasan tahun itu.
Tom lalu pulang rumah dan menceritakan kejadian yang baru dialaminya kepada sang istri. “Karmana bapak”, tanya istrinya. Perahu hancur. Bagian kepala patah”, jawabnya kepada istri.
Istrinya hanya diam dan meminta suami berhenti sementara dari aktivitas melaut.
Di temui di dalam perahun kecilnya siang itu Tom menegaskan, apapun yang terjadi perahu ini harus baik karena tanpa perahu ini saya tidak bisa menghidupi keluarga.
“Sudah sebulan persis hari ini saya tidur di rumah. Saya harus memperbaiki kapal Pancing Rawe ini karena dapur hidup saya ada di atas kapal tua yang yang saya beli pada 2013 ini”, katanya tanpa mengeluh.
Tidak ada yang jago dengan air laut apalagi saat musim Barat.
“Om tanya saja Tom Daulima di nelayan Kota Kupang. Yang berani melaut saat musim hujan hanya saya. Tapi kali ini saya menyerah”, pungkasnya.
Mendengar kisah pilu Tom Daulima saya tak mampu berbuat apa-apa. Mungkinkah ada pihak yang mau mengulurkan tangannya untuk membantu Tom ? Semoga !!!!!!

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »