Ribuan umat hadiri Samana Santa Larantuka

Larantuka, flobamoraspot.com- Ribuan orang baik Katolik maupun non Katolik, Dalam maupun Luar Negri pada Jumat siang bersatu padu, larut dalam prosesi Samana Santa, sebuah tradisi Katolik yang diwariskan bangsa Portugis kepada Kota kecil bernama Larantika.
Kota Renha demikian kota itu disebut. Kehadiran Bunda Maria di Pantai itu ribuan tahun lalu telah “menahbiskan Kota itu menjadi Kota Renha, kota yang dilindung dan dipimpin oleh ibu Yesus. Maria.
Perarakan Tuan Meninu (Kanak-kanak Yesus) siang tadi disaksikan ribuan orang meski udara kota Larantuka begitu menyengat. Kapal dan sampan-sampan kecil yang didayung oleh ratusan anak muda dan juga warga Kota Larantuka menuju Kapela Tuan Ma (Bunda Maria) kemudian ke Tuan Ana untuk selanjutnya menuju ke gereja Katedral Larantuka melewati laut, sangat menarik.

“Bahwa cuaca sangat panas di Larantuka tapi ribuan orang tetap bertahan menunggu kedatangan patung kanak-kanak Yesus yang diarak melalui laut”, Demikian kata Karo Humas Setda NTT Dr. Jelamu Ardu Marius dalam Live Report kepada Radio Tirilolok, Jumat (19/4/2019).

Pada malam ini, ribuan orang ikut mengelilingi Kota Larantuka mengenakan pakaian hitam melambangkan dukacita dengan masing-masing orang memegang lilin di Tangan.

“Kegiatan ini meskipun dihadiri oleh ribuan orang tetapi berlangsung sangat khidmat dan sangat sakral karena pada setiap perhentian Peziarah akan melantunkan doa dan setiap kelompok sudah menyiapkan pos dimana nanti para peziarah akan bebas berdoa. Di tiap-tiap pos di tengah kegelapan malam ini hanya dinyalakan lilin dari masing-masing”, tambah Marius.

Menurut dia, pada hari ini seluruh umat kristen di dunia merayakan hari raya Jumat Agung mengenang Wafat Yesus Kristus, yang diyakini sebagai penebus dosa umat Manusia.

Hadir pada kegiatan kerohanian yang telah menajdi even Pariwisata Rohani itu selain umat dari berbagai penjuru dunia juga Agen perjalanan dari kupang, Jakarta, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur dan sejumlah pejabat dari provinsi dan beberapa pejabat daerah yang datang menghadiri prosesi Samana Santa pada hari ini.
“Juga mengambil bagian dalam perjamuan malam tadi baik di kapela Tuan Ma atau Tuan Ana dan juga mengikuti misa Kamis Putih tadi malam di Katedral Larantuka mengenang perjamuan Terakhir dalam rangkaian Tri Hari Suci.

Nyonya Selfi, salah satu Peziarah menyatakan, sangat bahagia karena diberikan kesempatan untuk ikut dalam prosesi yang sangat sakral ini, “Ke depannya saya sangat berharap kegiatan religi ini dipertahankan. Ada beberapa hal yang kita benahi bersama seperti panduan bagi para peziarah yang bukan saja dari domestik tetapi juga dri mancanegara, perlu mengetahui spot-spot yang akan dituju sehingga memudahkan mereka untuk melakukan ziarah religi”, imbaunya..

Menurut dia, buku panduan dapat mempermudah peziarah untuk memahami istilah-istilah latin yang ada, karena peziarah yang hadir bukan hanya dari agama katolik saja tetapi juga non-Katolik datang untuk menyaksikan kegiatan yang sangat sakral ini.

Sejarah Semana Santa,
Mengutip laporan Antara, di Larantuka, sebuah kota kecil yang terletak di bawah kaki Gunung Ile Mandiri yang juga merupakan ibu kota Kabupaten Flores Timur itu, perayaan Paskah didahului dengan tradisi Prosesi Semana Santa yang dimulai pada Rabu malam, yang dikenal dengan sebutan Rabu Trewa 28 Maret 2018. Setiap tahun, sekitar satu minggu menjelang perayaan paskah, umat Katolik di Larantuka melaksanakan tradisi Semana Santa, yang telah berlangsung lebih dari lima abad, sejak bangsa Portugis menyebarkan agama Katolik dan berdagang cendana di Kepulauan Nusa Tenggara.

Semana Santa berasal dari kata semana (pekan) dan santa (suci), yang artinya pekan suci yang dimulai dari Rabu Abu, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci hingga Perayaan Minggu Paskah. Hingga kini, prosesi Semana Santa telah menjadi agenda tahunan dari pemerintah daerah Flores Timur sebagai wisata rohani dalam menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Prosesi Semana Santa Pada hari terbelenggu (trewa), umat Katolik setempat mulai berkumpul di kapel-kapel yang ada untuk berdoa mengenang kisah pengkhianatan Yudas Iskariot terhadap Yesus di Taman Getsemani.
Yesus akhirnya ditangkap dan kemudian disalibkan oleh para serdadu Romawi. Pada saat Rabu Trewa inilah, kota Reinha Rosari Larantuka berubah menjadi kota berkabung, tenggelam dalam khidmat dan refleksi pada pemurnian jiwa menuju pentas Jumat Agung nan abadi. Kini, Larantuka sedang berkabung, tenggelam dalam khidmat dan refleksi pada pemurnian jiwa menuju pentas Jumat Agung nan abadi pada 30 Maret 2018.
Pada Kamis Putih (29/3/2018) sore, kongregasi setempat mulai melakukan upacara Tikam Turo, yakni mempersiapkan rute prosesi dengan menanam lilin di sepanjang ruas jalan yang menjadi rute prosesi Jumat Agung yang jatuh pada 30 Maret 2018. Baca juga: 5.500 Peziarah Ikuti “Semana Santa” Rayakan Jumat Agung Di Kapel Tuan Ma (Bunda Maria), patung Bunda Maria yang telah dimeteraikan dalam sebuah peti mati selama satu tahun penuh, harus dibuka dengan penuh hati-hati oleh petugas Conferia (sebuah badan organisasi dalam gereja) yang telah diangkat melalui sumpah.

Patung Bunda Maria berkeramat itu, kemudian diambil dan dimandikan oleh petugas yang ditunjuk. Setelah itu, Patung Bunda Maria pelindung Kota Reinha Rosari Larantuka itu kemudian dikenakan pakaian berkabung (selembar kain warna hitam atau ungu, atau mantel beludru biru). Pada puncak ritual Sesta Vera atau Jumat Agung itu, pintu kapel Tuan Ma dan Tuan Ana (Patung Bunda Maria dan Patung Yesus) dibuka untuk umum mulai pukul 10.00 WITA.
Prosesi diawali dengan arak-arakan perahu serta puluhan bahkan ratusan kapal motor untuk mengantar Tuan Menino (Patung Yesus) dari Kapela Tuan Menino (Kota Sau) ke Kapela Pohon Sirih di Pante Kuce, depan istana raja Larantuka. Perayaan ini memberi kesan kuat bahwa pusat ritual itu kepada Yesus Kristus karena mengalami penyiksaan yang panjang sampai wafat di salib yang disaksikan sendiri oleh Maria, ibu kandungnya (Mater Dolorosa).

Menurut legenda, Patung Tuan Ma ditemukan oleh seorang laki-laki di Pantai Larantuka sekitar 500 tahun yang lampau. Ia kemudian menyerahkan patung tersebut kepada Raja Larantuka. Selama lebih dari empat abad, wilayah ini mewarisi agama Katolik yang cukup kuat di Nusantara lewat peran para misionaris, persaudaraan rasul rakyat biasa (Confreria), Suku Semana, Suku Kakang Lewo Pulo serta Suku Pou (Lema) dalam pertumbuhan agama Katolik di wilayah Larantuka.

(Sumber : Laporan Karo Humas, LKBN Antara/Sintus)/ Foto:hasil jepretan Humaspro NTT


Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »