Charles Sabaneno: Soal Pengelolaan Bendungan Tilong Tergantung Kemauan Para Pemimpin

bendungan tilong


Oelamasi, flobamoraspot.com – Pengelolaan Bendungan Tilong menjadi sebuah lokasi yang menarik bak sebuah harapan tak berujung. Keinginan Pemda Kabupaten Kupang dalam hal ini Dinas pariwisata untuk membenahi tempat itu menjadi sebuah destinasi pilihan di akhir pekan hanya menjadi keinginan karena Bendungan Tilong masih dalam penguasaan pihak provinsi.
“Harus ada kemauan kedua Pemimpin (Provinsi dan kabupaten Kupang) untuk duduk bersama dan membicarakan penyerahannya setelah itu pengelolaanya. Dengan adanya pergantian kepemimpinan provinsi dan kabupaten ada satu perubahan dan nuansa bagus kebetulan kedua pemimpin ini berasal dari satu paket pendukung yang harmonis sehingga ya kalo bilang diserahkan, terlalu kasar tetapi paling tidak berikan kewenangan sebagian untuk Kabupaten Kupang kelola. contoh, bantaran luar bendungan diserahkan kepada kabupaten sehingga kita bisa intervesi anggaran sedikit untuk lopo-lopo, homestay kecil sederhana,kuliner, kios-kios, bisa even motorcross atau lainnya yang bisa dibuat menjadi daya tarik sehingga tidak semata-mata hanya air bendungan padahal itu bisa dibuat lebih bernilai tinggi termasuk Raknamo cuman ya…..kita tidak bisa omong karena kita bawahan”, kata Kadis Pariwiata Kabupaten Kupang Drs. Pieter Charles Sabaneno kepada flobamoraspot.com Selasa (11/6/2019) di Oelamasi.
Menurut dia, Penyerahan Tilong kepada Kabupaten Kupang belum dilakukan pihak Balai Wilayah Sungai NT 2 sejak dibangun awal tahun 2. 000-an sehingga Pemda Kabupaten Kupang tidak bisa berbuat apa-apa di lokasi bendungan.
“Khusunya kami di dinas pariwisata keinginan itu selalu ada tetapi untuk intervensi langsung tidak bisa. Para pimpinan harus bertemu karena selama ini tilong belum di serahkan atau ada kerjasama dengan PEMDA kabupaten sehingga kami diberikan hak atau kewenangan untuk hamparan bantaran luarnya dijadikan apa saja yang penting mendukung untuk tidak merusak airnya”, tegas Mantan Kepala BAPPEDA kabupaten Kupang ini.
Selain bendungan Tilong ada lagi obyek wisata Jembatan Putih yang bisa dikelola namun karena masih dalam satu kawasan dengan Bendungan Tilong maka Pemkab Kupang lagi-lagi tidak melakukan aktivitas apapun di area itu.
“Saya belum tau persis lokasinya tapi pernah dengar tentang obyek wisata Jembatan Putih. Malah sudah viral di Media sosial, kita tidak bisa berbuat apa. khusus untuk wilayah tilong dan bendungan Raknamo itu semua satu paket dalam satu lokasi jadi tidak bisa disentuh kacuali diluar dari lokasi yang sudah di bebaskan. Itu masalahnya. Kita mau bergerak belum bisa padahal secara alam sudah terbentuk begitu indah seperti jembatan putih, masyarakat secara bersama-sama membuatnya menjadi viral, tetapi pengelolaanya susah kita masuk ke situ”, tuturnya.
Ditanya apa saja obyek wisata yang menjadi prioritas untuk dibenahi Pieter Charles mengatakan, pihaknya masih memusatkan perhatian ke obyek wisata Gunung Fatuleu.
“Kalau untuk 2019 hanya gunung fatuleu, tangga naik ke puncak, pagar tangga sampai ke puncak. Konsetrasinya masih ke situ karena pembangunannya masih setengah perjalanan tangga kami usahakan tahun ini di selesaikan sampai ke puncak”, urainya.
Lantas bagaimana respons masyarakat terhadap pembangunan Obyek wisata gunung Fatuleu Charles mengatakan, masyarakat sangat mendukung. “Kendalanya pada kawasan hutan di sekitar kaki gunung fatuleu sehingga untuk membenahinya butuh ijin dari Kementrian Kehutanan. Yang menjadi kendala sekarang bukan masyarakat tapi bagian luarnya termasuk hutan jadi kita tidak bisa intervensi jauh karena kawasan hutan itu butuh ijin mentri jadi bisa dipakai tapi tidak boleh ada perubahan apapun di dalamnya”, kata dia.
Menurut dia, Dana sudah tersedia, tinggal menunggu saat pelaksanaan Pekerjaan. “Dana 600 – 800 juta sudah tersedia”, pungkasnya.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »