Mateus: “Ada Pengidap HIV Yang Dipulangkan Tanpa Rujukan”

Ketua yayasan Flobamoras Jaya Kupang Mateus Dasilva saat menghadiri deklarasi Penutupan Lokalisasi Prostitusi Karang Dempel Jumat (4/10). Di antara yang pulang ke daerah asal ada Orang Terinveksi HIV yang tidak mengantungi Rujukan dari Rumah Sakit di Kupang yang selama ini melayani mereka.

KUPANG, FLOBAMORASPOT.COM – Pemerintah Kota Kupang telah memulangkan 53 dari 68 PS (Pekerja Seks) di Lokalisasi Karang Dempel ke daerah asal. Diantara mereka ada Orang Terinveksi HIV (OTH) yang dipulangkan tanpa Koordinasi yang jelas.

“Tadi Saya lihat ada sekitar 7 OTH yang ikut dipulangkan. Kasihan mereka nanti bagaimana kelanjutan minum obatnya di sana. Belum ada Koordinasi yang jelas tu. Ini sama dengan membunuh mereka pelan-pelan”, ungkap Ketua Yayasan Flobamora Jaya Kupang Mateus Da Silva kepada Media ini di sela-sela acara Deklarasi Penutupan Lokalisasi Prostitusi Karang Dempel Jumat, (4/10/2019).

Menurut dia, Orang terinveksi HIV (OTH) yang dikirim ke daerah asal namun belum mengantungi Rujukan untuk bisa mengambil obat Anti Retro Viral (ARV) di daerah asal.

“Ada yang belum bawa (rujukan) karena kaget – kaget saja. sampai di sana mereka tidak bisa mendapat pelayanan obat. Tidak tau Rumah Sakit mana yang dituju. Ini salah satu cara membunuh orang pelan-pelan. Kita tidak larang. Mereka boleh dipulangkan tapi harus bawa surat rujukan, kalao tidak kerja kita selama ini percuma”, terang dia.

Ia mengatakan, ada yang baru mulai terapi selama satu bulan dan banyak yang sudah sekian tahun. “Kita harus alihkan mereka dengan rujukan jika ingin dipulangkan ke daerah asal. Rata-rata mereka ke Malang jadi rujukannya harus jelas ke Rumah Sakit di sana supaya mereka tidak putus obat”, ujarnya.

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, WPS (Wanita pekerja Seks) yang dipulangkan hanya 53 Orang Dari 68 orang yang Positif pulang. Lantas di mana 15 lainnya ?

“Mereka menolak dipulangkan ke daerah asal atau protes bersama puluhan PS lainnya. ada juga yang sudah pulang dengan biaya sendiri. Ke daerah asal atau ke tempat lain kita tidak tau. Kondisi ini membuat jumlah kasus HIV dan AIDS ke depan sulit terkontrol”, ujar Mbak “S”

“Saya berharap, mereka yang pulang sendiri tidak melakukan praktek prostitusi di tempat lain sehingga HIV tidak menular ke mana-mana”, pungkasnya.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »